Oleh: listiaji | 3 Agustus 2010

REDENOMINASI RUPIAH


Gubernur BI yang baru saja terpilih dengan catatan oleh DPR, Darmin Nasution, dua hari yang lalu membuat kejutan di awal masa jabatannya. Darmin menyorongkan wacana redenominasi atas mata uang Rupiah, yang kontan saja membuat posisi pro dan kontra di tengah masyarakat. Darmin menyebutkan alas an pentingnya redenominasi itu karena pecahan uang rupiah adalah yang terbesar kedua setelah Mata Uang Dong Vietnam yang ada seharga 500.000 per bilyetnya.
Dalam paparannya pada hari ini, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menyatakan uang Rupiah Baru akan benar-benar digunakan pada tahun 2018 hingga 2020. Ia memaparkan rencananya sebagai berikut
2010 – 2012 Masa persiapan penerapan kebijakan redenominasi/sosialisasi
2013 Bilyet uang Rupiah Baru mulai diterbitkan. Rupiah lama akan tetap digunakan.
2013 – 2015 Masa transisi. Di masa ini BI tetap mengeluarkan rupiah pecahan lama
Toko-toko menerima dua jenis uang dan memasang harga dalam 2 harga.
2018 – 2020 BI akan menarik uang pecahan lama secara bertahap hingga habis
2019 – 2020 BI akan menghapus tulisan baru pada pecahan baru hingga seterusnya.
Darmin juga mendesak kebijakan redenominasi ini agar dimasukkan dalam RUU Mata Uang
Apa sih redenominasi itu? Redenominasi adalah pemotongan jumlah digit dalam uang Rupiah kita misalnya Rp. 100.000 menjadi Rp. 100 atau bisa juga menjadi Rp. 10. Jadi bila kita biasanya membeli sepatu seharga Rp. 100.000 uangnya diganti menjadi pecahan Rp. 10.
Bagi yang pro menyatakan redenominasi akan menyederhanakan system accounting sehingga memasukkan uang dalam jumlah yang lebih ringkas seperti dollar Amerika. Sementara kelompok kedua yang kontra menyatakan langkah ini akan memboroskan biaya pencetakan rupiah baru, karena semua bilyet uang yang beredar di masyarakat harus ditarik dan digantikan dengan rupiah yang baru. Selain itu langkah ini, bila gagal, juga dapat memacu inflasi yang tak berbatas seperti yang terjadi di negeri Zimbabwe sehingga bisa meruntuhkan perekonomian Negara tersebut. Bank Indonesia sendiri membantah akan terjadinya pemborosan pencetakan Rupiah baru, karena penarikan akan dilakukan secara alamiah seperti biasa, dan secara bertahap digantikan uang rupiah yang bercapkan “Baru”, sehingga alasan pemborosan dapat dikesampingkan. Namun demikian alasan kedua bahwa kebijakan ini dapat memacu inflasi harus dipertimbangkan masak-masak. Karena bagaimanapun kondisi psikologis masyarakat tidak serta merta dapat menerima sesuatu yang berharga Rp. 10.000 menjadi Rp. 10. Selain pasti ada pedagang yang berusaha mencari celah keuntungan dengan menaikkan harga menjadi Rp. 11 dan seterusnya, factor traumatis atas pemotongan nilai atau yang schenering yang terjadi pada 1955 dan 1965 tak dapat diabaikan. Kebijakan tersebut dianggap sebagai kebijakan yang memiskinkan masyarakat luas karena daya beli masyarakat yang anjlok sedemikian drastis. Apalagi peluncuran wacana tersebut berdekatan dengan pengumuman inflasi bulan Juli 2010 yang mencapai 1.57 persen atau yang tertinggi sepanjang tahun.
Tidak saja masyarakat luas yang menentang kebijakan ini, tak kurang Menteri Keuangan Agus Martowardojo juga menyatakan kebijakan ini sebagai hal yang mustahil. Ia menyatakan belum tahu akan rencana ini dan tak mendukungnya. Memang dari sisi positifnya bisa dilihat rupiah menjadi lebih praktis karena jumlah nolnya dipotong beberapa digit. Tetapi BI dan pengambil kebijakan harus mempertimbangkan faktor psikologis masyarakat Indonesia yang menganggap ini sebagai schenering, meski redenominasi jauh berbeda dengan schenering. Belum lagi tingkah laku pedagang yang lebih mudah menaikkan harga misalnya dari Rp. 5 menjadi Rp. 6 atau bahkan Rp. 8, bukan menaikkan harga dari Rp. 5 menjadi Rp. 5.2 atau Rp. 5.5, sehingga akan memacu inflasi dengan cepat.
Dampak yang terlihat pada hari ini saja, sebagai contoh IHSG langsung jeblok 85.323 point atau minus 2.79 persen menuju level 2973.656 menanggapi isu redenominasi dan juga dampak inflasi bulan Juli yang diumumkan kemarin. Dana asing yang minggu lalu terus masuk ke Indonesia sehingga membuat lantai bursa bersemangat dan minggu lalu sempat menembus rekor IHSG diatas 3100, langsung keluar, dan menjatuhkan indeks. Nah itu baru respon dari masyarakat yang terbilang well educated. Bagaimana dengan respon masyarakat kebanyakan yang tidak memahami dan bahkan tidak mau memahami bahwa redenominasi sangat berbeda dengan schenering? Meski dengan sosialisasi bertahun-tahun, langkah ini akan menjadi sangat berbahaya dan berpotensi memasukkan Indonesia dalam krisis seperti Zimbabwe.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 85 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: