Awal Pebruari ini(9/2), Bank Indonesia kembali memangkas suku bunga acuannya, atau BI Rate sebanyak 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Kebijakan ini jelas menekan tingkat return bagi produk simpanan bank baik, tabungan, giro maupun deposito. Menyimpan uang di bank jelas menjadi sangat tidak menguntungkan bagi nasabah. Yang menjadi pertanyaan, perlukah kita mengubah keranjang investasi yang kita miliki? Terutama dengan situasi bursa yang tidak menentu, apalagi dengan situasi Eropa yang menjadi beban bagi indeks.
Sebetulnya masih banyak keranjang investasi lain selain tabungan dan deposito yang dapat menjadi alternatif. Diantaranya, reksadana, sukuk syariah, ORI, saham dan sebagainya. Namun, kita perlu melihat dulu tujuan investasi sebelumnya, agar perubahan keranjang investasi tidak mengacaukan seluruh rencana investasi yang telah disusun pada awal tahun. Ingat, fungsi tabungan dan deposito adalah investasi yang mudah dicairkan dan imbal hasilnya tidak akan minus (dengan mengesampingkan tingkat inflasi yang menggerogoti nilai bunga). Umumnya penempatan dana di tabungan dan deposito adalah untuk kebutuhan jangka pendek yang pemenuhannya dapat dilakukan dengan segera. Jadi tidak bisa, uang tabungan dipindahkan sepenuhnya ke saham yang beresiko tinggi atau reksadana jenis saham atau reksadana jenis campuran yang memiliki horozon investasi diatas lima tahun.
Namun, bukannya kita tidak bisa menata ulang porsi tabungan dan deposito dan pasrah saja kepada keadaan yang sedang berlangsung. Sejumlah keranjang investasi seperti reksadana pendapatan tetap masih dapat memberikan return diatas simpanan bank tanpa biaya masuk/keluar, meski untuk mencairkannya memerlukan waktu beberapa hari. Namun dengan perencanaan yang baik akan kebutuhan keuangan jangka pendek, investasi di produk reksadana seperti ini dapat menjadi pilihan. Tentu jangan kuras habis dana tabungan, hingga anda bisa kelimpungan saat benar-benar memerlukan.
Sementara jumlah dana di tabungan yang hanya dihargai sekitar 2 persen per tahun dapat Anda pindahkan ke produk deposito dimana sejumlah bank memiliki keleluasaan pengambilan sewaktu-waktu, meski return nya tetap sebesar deposito.
Sukuk ritel juga bisa menjadi pilihan investor dimana prospek kuponnya sekitar 6-7% masih dapat dinikmati. Atau si logam kuning, emas, tampaknya maih dapat terus tumbuh selain juga memberikan likuiditas yang cukup baik untuk pencairannya.
Namun apapun perubahan rencana investasi, sebaiknya tidak terlalu melenceng dari tujuan semula, agar tidak kerepotan dalam mengelolanya


Komentar Terakhir